Tentang Saya

<font face=tahoma>Yang baru mencoba menekuni dunia jurnalisme. Belum bisa menulis dengan baik, karena memang sedang belajar menulis dengan baik. Memulai karir jurnalistik di Tabloid Beudoh, sebuah tabloid kecil yang dikelola sejumlah aktivis gerakan. Belakangan, tabloid itu di-banned oleh Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Aceh. Namun, saat itu saya sudah tidak terlibat lagi di tabloid alternatif itu. Kebersamaan saya hanya sampai edisi empat.

Sebulan setelah bekerja di Beudoh, saya juga diterima sebagai jurnalis di Tabloid Politik Modus, belakangan berganti nama menjadi Modus Aceh. Karena Modus juga nama media di Jakarta dan Bali. Sembari belajar di Modus, saya juga nyambi sebagai kontributor di Majalah¬†Latitudes, sebuah majalah budaya yang terbit di Bali. Pada akhir tahun 2003, saya “bermasalah” dengan bos, sehingga tidak bisa bekerja lagi di sana. Pada Januari 2004, mulai bekerja sebagai kontributor di Suara Merdeka CyberNews.

Pada Desember 2003, saya bergabung juga sebagai kontributor di situs berita alternatif acehkita.com. Kemudian pada Agustus 2004, saya menjadi redaktur di situs dan majalah acehkita, sebuah media yang menyuarakan kepedihan sipil selama berada dalam kunkungan status darurat militer yang diberlakukan pemerintah. AcehKita lahir sebagai bentuk perlawanan sejumlah jurnalis dan aktivis di Jakarta dan Aceh terhadap sikap pemerintah yang mengedepankan cara-cara militeristik dalam menyelesaikan konflik Aceh. AcehKita hanya memihak pada korban sipil selama perang berlangsung. Media ini juga dengan gigih menyuarakan dan mendorong para pihak yang bertikai untuk menciptakan perdamaian di Bumi Aceh.

Sayang, saat perdamaian bersemi, AcehKita harus bubar. Kalangan redaksi tidak cocok dengan pengurus Yayasan AcehKita (sebuah lembaga yang dilahirkan oleh situs dan majalah acehkita). Ketidakcocokan itu karena kalangan redaksi melihat ada indikasi penyelewengan bantuan kemanusiaan untuk korban tsunami yang dikelola oleh pihak Yayasan. Saya bagian dalam gerakan yang menentang perlawanan.

Pada 14 September 2005, Yayasan menutup situs berita acehkita.com dan menghentikan penerbitan majalah. Kami bergerilya di Jakarta dan Aceh untuk bisa menghidupkan kembali situs yang menjadi referensi semua kalangan yang ingin tahu tentang Aceh itu. Pada 5 Oktober 2005, berkat dukungan dana dari aktivis di Aceh, Jakarta, dan sejumlah pembaca di luar negeri, kami menghidupkan kembali situs acehkita.com. Alhamdulillah, sampai sekarang situs acehkita.com masih bisa melayani informasi pembaca.

Pada Februari 2006, terjadi pergantian pucuk pimpinan di acehkita.com. Dandhy D Laksono yang selama ini menjabat Pemimpin Redaksi, menyatakan mundur. Karena dia sudah bekerja di media lain. Pucuk pimpinan kemudian dialihkan ke saya, sampai sekarang.

Selain menggawangi situs acehkita.com, saya juga bekerja di Aceh Magazine, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Aceh Recovery Forum. Tapi saya tidak terlibat di ARF. Pada Juli 2006, saya menjadi stringer di Associated Press. Saat ini, sedang menyelesaikan sebuah proyek liputan yang didanai oleh United Nations for Development Program (UNDP). </font>

Iklan

Responses

  1. ass.sy laila berdomisili di medan, bagi yg kebetulan membaca tulisan ini tolong kirimkan ke E-mail sy tentang sejarah daerah peunayong di aceh.E-mail: laila_gayo@yahoo.co.id

  2. o ia. trimakasih ya….wassalam

  3. Hajar terus boss….. memberitakan dengan hati nurani….

  4. Selamat ngeblog, bek tuwe update sabe bang…

  5. banyak memang free template tapi cuma malas ganti aja. blogku versi lama jadi agak lain formatnya. hmmg.

  6. Keren *_*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: